Setelah kembali ke jalan yang benar, kami masih harus menempuh sekitar 8 km lagi dengan kondisi jalan yang tidak terlalu bagus.
Perasaan sedikit lega setelah kami melihat tanda keberadaan dari Stasiun Lampegan. Tujuan pertama kami. Memang biasanya yang mau berwisata ke Gunung Padang singgah terlebih dahulu di stasiun ini. Selain ada terowongannya, di dekat stasiun ini juga terdapat masjid, sehingga cocok untuk istirahat sejenah sembari melaksanakan ibadah setelah `digoyang` kondisi jalan sebelumnya.
Terowongan ini merupakan terowongan pertama di Jawa Barat yang letaknya di lintas kereta api yang menghubungkan Batavia-Bandung lewat Bogor/Sukabumi.
Situs Megalith Gunung Padang
Setelah puas transit, kami melanjutkan perjalanan ke arah Situs Megalith Gunung Padang. Alhamdulillah, jalannya lebih bagus daripada sebelumnya. Perjalanan bagian ini berjarak sekitar 5 km dengan pemandangan sekitar berupa perbukitan kebun teh.
Setelah parkir, hal pertama yang kami lakukan adalah mengkonsumsi sawo yang sudah dibeli tadi, haha. Cuaca kebetulan agak panas sehingga kenikmatan sawo bisa meningkat drastis (uopooo).
Dari gerbang utama hingga menuju tempat beli tiket sekitar 500 m, tapi jalannya sedikit menanjak. Satu hal yang harus menjadi perhatian; hati-hati dengan tawaran ojeg dengan tarif 5000 rupiah, karena memang sebenernya deket. Mungkin kalau temen-temen yang pernah jalan bareng saya pasti udah sering denger soal cerita ojeg di
Trip Sumbing lalu. Bisa jadi bahan bully² soalnya, wkwk.
 |
| Dari gerbang utama menuju tempat tiket |
Setelah membeli tiket, kami makan siang bareng terlebih dahulu. Banyak warung ko' di sekitar tempat beli tiketnya. Setelah itu, kita langsung naik tangga nestapa yang tingginya sekitar 200 meter. Sebenarnya ada 2 jenis anak tangga, yaitu yang curam dan tidak. Yang curam merupakan anak tangga asli, sedangkan yang tidak adalah buatan. Nah, kami memilih naik yang curam. Situs ini sendiri berada di ketinggian 885 mdpl.
 |
| Makan siang dengan lauk khas Sunda buat modal naik tangga |
 |
| Bersiap \o/ |
 |
| Tangga Nestapa |
Beres naik tangga + keringetan. Apa yang kami temukan?
Wah, kami menemukan peninggalan purbakala!!! Huahahaha. Subhanallah~
Oke, foto yang terakhir emang agak alay (maafkan kami).
Saran saya si kalau udah sampai di sini mendingan langsung nyari guide yang bisa menjelaskan tentang sejarah adanya situs ini. Jadinya bisa wisata religi, ga cuma lihat batu-batu, foto-foto tapi ndak tau artinya apa.
 |
| Khidmat mendengarkan Si Bapak cerita |
Nilai Religi
Salah satu keunikan dari situs ini adalah sebuah punden berundak yang mempunyai ciri serba 5.
- Dikelilingi oleh lima gunung.
- Mempunyai 5 teras.
- Bentuk batuannya yang hampir semuanya 5 sisi dan berjenis andesit.
Konon katanya ini erat kaitannya juga dengan kodrat kita sebagai manusia yang tak lepas dari angka 5 (terutama umat Islam). Berbagai kewajiban 5 waktu, 5 ujung tubuh, dll.
 |
| Singgasana Raja |
Selain itu, masih ada beberapa batu yang mempunyai tanda khusus.
 |
| Batu dengan bekas (seperti) tapak Maung |
Menurut bapak guide, maung di sini belum tentu makna denotasi, karena bisa dihubungkan dengan konotasi Manusia Unggul yang berhubungan dengan 9 hal. (Duh sayang saya lupa banget ini apa aja).
 |
| Batu dengan tanda Kujang (Senjata Sunda) |
Tanda Kujang di batu ini diyakini sebagai pertanda bahwa sudah adanya tempat ini di era Prabu Siliwangi. Kujang adalah senjata yang terkenal sebagai identitas Sunda.
 |
| Konon adalah tempat peristirahatan |
Tempat peristirahatan diatas konon adalah tempat yang nyaman untuk duduk, pernah dicoba juga oleh Presiden SBY ketika berkunjung di sini.
Dan masih banyak cerita lainnya yang diceritakan oleh bapak guide yang bisa diambil hikmahnya. Pokoknya rugi kalau ga minta penjelasan dari si bapak guide. Untuk sewa guide sendiri dibayar seikhlasnya ko'.
Setelah beres wisata religi di sini kami sebenarnya masih ingin melanjutkan perjalanan ke curug, tetapi cuaca tidak mendukung. Bahkan sebelum kami turun tangga sudah turun hujan yang lumayan deras. Akhirnya kami cuma bisa buka snack dan ngopi bareng :').
 |
| Kopi + Hujan |
Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan pulang dengan wisata kuliner di dalam Kota Cianjur. Kali ini kami memutuskan untuk menikmati Sate Maranggi 'Warujajar' Cianjur yang ada di kawasan Jalan Arif Rahman Hakim. Enaknya dibahas di postingan lain ya (sok asik) :))
Mungkin itu dulu liputan dari perjalanan ke Situs Megalith Gunung Padang Cianjur, terima kasih buat yang sudah berpartisipasi dan membaca postingan ini. Buat yang pengen dan belum sempet ke sana, sekarang udah banyak open trip ke sana yang udah include transportasi dengan elf, jadinya simpel dan ga ribet. Selamat Mencoba! :D
@ariffsetiawan